Skip to content
Go back

Ketika 'Iya' atau 'Tidak' Menjadi Sulit, Maka Ini Jawabannya

Published:  at  03:21 PM

Pernah nggak, kamu dihadapkan pada satu situasi dimana kamu mesti memutuskan antara ‘iya’ atau ‘tidak’, namun justru terjebak pada overthinking berkepanjangan, yang bahkan menyebabkan kamu menunda memutuskan. Karena, kamu punya kecenderungan pada ‘iya’, padahal sebenarnya jawabannya adalah ‘tidak’.

Lebih susah lagi, kalo kita memasukkan unsur-unsur: ..karena sungkan, nggak enak kalo nolak, jaga perasaan, dsb. He, gitu kan?

When faced with a difficult decision, if you cannot decide – the answer is no. — Naval Ravikant

Pagi ini saya baca tulisannya Naval Ravikant, yang linknya saya share juga di akhir posting ya. Dalam posting blognya, ia membagikan beberapa heuristik atau framework yang dapat membantu dalam pengambilan keputusan yang lebih baik. Berikut adalah tiga heuristik yang ia sarankan:

Keputusan Sulit

“Ketika dihadapkan pada keputusan yang sulit, dan kita menemukan kondisi bahwa kita tidak dapat memutuskan – maka jawabannya adalah tidak.”

Naval menjelaskan bahwa dalam masyarakat modern, kita memiliki banyak pilihan, dan konsekuensi dari keputusan tersebut bisa berdampak jangka panjang. Oleh karena itu, penting untuk hanya mengatakan “ya” ketika kita cukup yakin. Jika kamu harus membuat daftar pro dan kontra yang panjang, mungkin itu tanda untuk menolak.

Pilihan yang Sama Baiknya

“Jika kita memiliki 2 pilihan yang sama-sama menguntungkan, maka pilihlah jalan yang lebih sulit dalam jangka pendek.”

Naval menyarankan bahwa otak kita cenderung menghindari rasa sakit jangka pendek, meskipun pilihan tersebut mungkin membawa keuntungan jangka panjang. Dengan memilih jalan yang lebih sulit sekarang, kita mungkin mendapatkan manfaat yang lebih besar di masa depan.

Konflik Interpersonal

“Dalam situasi terdapat konflik interpersonal, pilihlah pilihan yang akan membuat kita lebih tenang dalam jangka panjang.”

Ini berarti membuat keputusan yang, meskipun mungkin sulit saat ini, akan membawa ketenangan batin dan menghindari penyesalan di masa depan.

Nampak simpel ya. Namun tetap aja sih ini mesti kita latih dalam keseharian. Dan tentu, seperti yang dipesankan oleh Naval, bahwa framework mungkin saja tidak bisa begitu saja diterapkan di suatu situasi. Oleh sebab itu, tetap diperlukan kebijaksanaan kita dalam mengaplikasikannya.

Sumber bacaan: Naval Ravikant’s 3 Heuristics for Decision-Making



Previous Post
Orang Tidak Peduli Seberapa Banyak yang Kamu Tahu, Sampai Mereka Tahu Seberapa Besar Kamu Peduli
Next Post
Cara Efektif Menghadapi 'Omong Kosong'