
Ya, kamu tidak salah baca judul post ini. Ada kalanya, aku bisa benar-benar mendengar seyummu dari ujung telepon. Tentu ini bukan gombal atau semacamnya. Guna meyakinkanmu, aku sampai mencari beberapa penelitian ilmiah untuk mendukungnya.
Beberapa kajian ilmiah mendapati bahwa komunikasi (berbicara) yang dibawakan sambil tersenyum akan memberikan dampak berbeda dibandingkan komunikasi yang dibawakan dengan ekspresi netral. Orang lain tidak hanya sebatas melihat efek visual dari senyum kita, namun juga merasakan kehadirannya secara auditori (“orang bisa mendengar senyum kita”).
Senyum dapat ‘terdengar’ dalam suara
Smiling is a universally recognized visible expression of happiness. A side effect of smiling is an alteration of the vocal tract, suggesting that during vocalization smiling may be heard as well as seen.
Kalimat tersebut saya kutip dari penelitian klasik oleh V. C. Tartter, berjudul “Happy talk: Perceptual and acoustic effects of smiling on speech”, yang diterbitkan dalam Jurnal Perception & Psychophysics pada tahun 1980. Ringkasnya, penelitian Tartter menunjukkan bahwa pendengar mampu membedakan suara orang yang berbicara sambil tersenyum versus yang tidak, bahkan ketika mereka tidak melihat wajah pembicaranya.
Penelitian lain oleh Simon Stone, dkk., dalam Perceptual Cues for Smiled Voice - An Articulatory Synthesis Study, pada tahun 2022, menemukan bahwa perubahan bentuk wajah saat tersenyum akan mengubah karakter suara (pitch, resonansi, dan kualitas vokal). Sehingga, pendengar dapat menangkap kesan bahwa pembicara sedang tersenyum.
Sehingga menjadi logik ya, jargon yang kerap dijadikan rujukan dalam dunia penyiaran, bahwa:
Smile when you talk, because people can hear it.
Senyum meningkatkan kesan positif
Dalam komunikasi sehari-hari, pesan yang diucapkan diiringi dengan senyum akan mendapat penerimaan berbeda jika dibandingkan dengan pesan tanpa iringan senyum. Menjadi konsensus umum bahwa orang yang tersenyum dinilai lebih ramah, lebih hangat, lebih simpatik, dan bahkan lebih dapat dipercaya (Khusus untuk yang terakhir ini nampaknya kita patut memperhatikan konteks, ya. Kalau ujungnya ‘pinjam dulu seratus’, eits, entar dulu..).
Sebagai contoh, saat kita mengucapkan “Terima kasih ya sudah hadir di acara kami”. Jika diucapkan tanpa ekspresi, akan terdengar biasa saja. Berbeda saat kalimat tersebut terlontar dengan iringan senyum tulus. Pendengar akan menangkap makna lebih personal, lebih hangat dari ungkapan yang sama.
Senyum menular dalam percakapan
Senyummu tak sebatas mengubah perasaan atau suasana hatimu. Ia juga berdampak pada suasana emosional seluruh percakapan yang sedang kamu lakukan. Ini tentu bukan sebatas menurutku. Dalam sebuah penelitian yang lebih baru, disebutkan:
Smiling during conversation occurs interactively between people and is known to build good interpersonal relationships. However, whether and how much the amount that an individual smiles is influenced by the other person’s smile has remained unclear.
Ini termuat dalam sebuah publikasi ilmiah berjudul “SThe other person’s smiling amount affects one’s smiling response during face-to-face conversations”, yang ditulis oleh Yota Obayashi, dkk., pada tahun 2024.
Fenomena ini disebut sebagai _facial mimicry (peniruan ekspresi wajah secara otomatis). Ketika dua orang sedang terlibat dalam percakapan, kemudian salah satu pembicara lebih banyak tersenyum, maka lawan bicara pun akan cenderung ikut lebih banyak tersenyum.
Senyum menjadi pelumas sosial
Saat seseorang tersenyum, ini memberikan sinyal positif bagi lawan bicara sebuah pesan implisit. Ia berupa sinyal, “saya terbuka untuk berinteraksi, saya berniat baik”. Hal ini membuat komunikasi lebih relaks, lebih lancar. Sehingga layak jika senyum disebut sebagai pelumas sosial.
Poin-poin catatanku ini tentu terelasi dalam konteks yang positif juga, ya. Tentu hal ini (efek positif senyum)tidak relevan/terkecuali bagi seseorang yang memiliki niat manipulatif.
Rasulullah SAW. saja mengajarkan kepada kita, “Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah” (Hadits Riwayat At-Tirmidzi, Ibnu Hibban).
Referensi:
- Tartter, V. C. (1980). Happy Talk: Perceptual and Acoustic Effects of Smiling on Speech.
- Stone, S., dkk. (2022). Perceptual cues for smiled voice - An articulatory synthesis study.
- Obayashi, Y., dkk. (2024). The Other Person’s Smiling Amount Affects One’s Smiling Response During Face-to-Face Conversations.