Skip to content
Go back

Yellow Caturra: Kopi Langka dan Kenangan yang Menyusup Lewat Rasa

Published:  at  08:21 AM

something

Jejak nostalgik rupanya tidak hanya tinggal di foto atau catatan lama. Ia juga tinggal, menyertai hal-hal yang tak bisa kita simpan di galeri: di aroma, di rasa yang kusesap lalu membuka pintu ingatan lama. Ya, nyatanya memori bisa hadir utuh beserta secangkir kopi yang kuseduh pagi ini.

Aku masih ingat satu masa di sekitar 2015. Di ruang kerja yang biasanya ramai oleh target dan tenggat itu, seorang senior—yang sering kami sapa dengan panggilan ‘Simbah’—memperkenalkan kami pada seduhan kopi yang dibawanya sebagai buah tangan dari Ruteng, Nusa Tenggara Timur. Duo biji kopi Yellow Caturra dan Juria. Kami menyesap seduhan itu dalam diam, lalu tiba-tiba ruangan yang berisi sembilan meja berformasi melingkar yang lebih mirip ruang rapat itu seketika berubah menjadi tempat orang-orang bercerita. Di situlah aku pertama kali paham bahwa larutan hitam kafein itu ampuh sebagai pemersatu.

Waktu itu, aku belum tahu bahwa biji kopi yang kami seduh, Yellow Caturra adalah varietas langka. Jumlah pohonnya tidak banyak. Aku hanya tahu rasanya berbeda. Baru bertahun-tahun kemudian aku paham jika Yellow Caturra memang kopi yang tampil berbeda. Sesuai namanya, Buahnya matang dalam warna kuning, bukan merah layaknya berry kopi kebanyakan. Seolah sejak awal ia memilih jalur yang tidak umum.

Di kebun-kebun dataran tinggi seperti di sekitar Bajawa, Manggarai, ia tumbuh dengan cara yang juga tidak tergesa. Produksinya sedikit, perawatannya lebih rewel, dan hasilnya tidak selalu bisa diprediksi. Tapi justru di situlah keistimewaannya lahir. Dalam keterbatasan, ia menyimpan karakter rasa yang bersih, ringan, dan tenang. Ada nuansa buah, ada sentuhan seperti teh—rasa yang tidak memaksa, tapi bertahan lama.

Aku sering berpikir, hidup pun bekerja dengan pola yang mirip. Yang paling berarti sering kali bukan yang paling ramai, melainkan yang paling jujur pada prosesnya.

Dan mungkin itu sebabnya kopi ini begitu membekas dalam ingatanku. Bukan karena ia langka, tapi karena ia datang di sebuah masa ketika kami, di ruangan kerja kecil itu, sedang sama-sama belajar menjadi manusia yang saling menguatkan—meski hanya lewat secangkir kopi.

Kini, setiap kali aku mengingat Yellow Caturra, aku tidak lagi hanya memikirkan kopi. Aku memikirkan orang-orang yang pernah duduk di seberang meja, tentang tawa yang tidak dicatat, dan tentang hari-hari yang mungkin terasa biasa, tapi diam-diam membentuk siapa kita hari ini.

Mungkin itulah yang sering kita cari dalam hidup. Bukan hal-hal besar, melainkan momen kecil yang terasa utuh. Dan entah bagaimana, kopi langka bernama Yellow Caturra menjadi salah satu pintu sunyi yang mengantarkanku kembali ke sana. Bertahun-tahun berlalu.

Di pembuka 2026 ini, aku dipertemukan kembali dengan kopi yang sama. Biji kopi yang kuperoleh dari rumah roastery sekaligus coffee shop unik dengan konsep slow bar yang berdomisili di Yogyakarta, Klinik Kopi. Rasanya seperti membuka buku lama dan menemukan catatan kecil di pinggir halaman, “pernah menjadi bagian dari skenario ini.”

Spontan, dengan maksud berbagi memori lawas, kufoto buskus biji kopi berwarna dasar hitam dengan sticker bertulis: Natural Process, YELLOW CATURRA, EAST NUSA TENGGARA, Klinik Kopi. Kemudian kukirim melalui pesan whatsapp ke Simbah.

Mbah, sik iling karo kopi iki, pora? (Mbah, masih inget sama kopi ini?)

Dan, dijawabnya: “Wah, mantap..”



Previous Post
Aku Mendengar Senyummu dari Ujung Telepon
Next Post
Charlie Munger: Diam, 6 Hal yang Sebaiknya Tidak Perlu Kita Ceritakan ke Siapa Pun