Skip to content
Go back

Apa Salahnya Merayakan Hal-Hal Kecil?

Published:  at  05:00 PM

something

Aku pernah di posisi dimana sering kali bertanya-tanya kenapa orang begitu suka membagikan momen pribadinya di story media sosialnya. Momen yang sebetulnya biasa saja bagi khalayak. Dalam tone nyinyir “ah, gitu doang juga”. Misalnya nih:

dan segudang aktivitas lain yang sebetulnya mudah kita jumpai di keseharian, sekadar cuplikan aktivitas yang tampak biasa.

Dulu, aku melihat itu dengan sedikit rasa heran. Kadang bahkan muncul pikiran kecil yang nakal:

Kalau mau bilang bangga ke anaknya, ya tinggal ngomong langsung kan?, kalau emang hari-hari kamu pulang-pergi rumah-kantor harus melewati kerumunan antrian nunggu KRL kan tinggal nikmati saja? Kenapa harus diumumin ke semua orang?

Aku nggak marah. Nggak terganggu juga. Hanya… bingung.

Seolah-olah aku sedang melihat parade kebahagiaan orang lain, tapi tidak sepenuhnya paham kenapa harus dipertontonkan.

Sampai suatu hari, aku menonton ulang salah satu story dari seorang teman. Isinya cuma video anak batitanya yang mulai belajar dan bisa berjalan untuk pertama kalinya. Suara temanku agak bergetar saat mengambil video itu. Ada haru, tawa kecil, sekaligus rasa lega, dan ada kebanggaan yang tumpah tanpa ditahan.

Dan entah kenapa, kali itu aku nggak melihat “pamer”. Aku malah melihat seseorang yang ingin membekukan momen kecil itu. Seolah dia bilang ke dunia: “Aku senang dan bangga. Tolong ada yang ikut senang juga bersama kami.”

Sejak itu, aku mulai melihat story orang lain dengan sudut pandang yang berbeda.

Semakin ke sini, aku makin paham bahwa setiap orang punya versi kebanggaannya sendiri. Buat sebagian orang, pencapaian berarti mungkin saja berupa menang lomba bergengsi, dapat penghargaan dari walikota atau promosi jabatan, dsb. Tapi buat sebagian lainnya, kebanggaan itu sederhana saja.

Anaknya berani maju ke depan kelas. Orangtuanya sehat. Rumahnya akhirnya rapi setelah berantakan sekian lama. Atau sekadar hari di mana mereka bisa tersenyum sedikit lebih lebar dari biasanya.

Dan lucunya, aku pun ternyata begitu. Ada momen-momen kecil yang ingin kubagikan, meski aku tahu itu tidak penting buat orang lain. Seperti foto yang mengabadikan momen sederhana selepas lari pagi. Atau ketika aku berhasil bikin kopi yang rasanya pas dari biji kopi yang baru saja kubeli.

Bagi dunia, itu mungkin biasa. Tapi buatku, itu momen yang punya tempat.

Pada akhirnya, aku menyadari satu hal yang pelan-pelan mengubah cara pandangku. Kita semua punya hal kecil yang ingin dirayakan. Dan sering kali, kita merayakannya dengan cara yang paling sederhana: dengan membaginya kepada orang lain.

Dulu aku melihat story sebagai etalase. Sekarang aku melihatnya sebagai jendela kecil untuk mengintip hal-hal baik yang sedang dirayakan orang.

Dan dari situ aku belajar:

Mengapresiasi kebahagiaan orang lain itu juga bentuk kedewasaan. Bukan karena kita harus ikut senang. Tapi karena kita mengerti bahwa setiap orang sedang berjuang dengan caranya sendiri — dan momen yang mereka bagikan mungkin adalah salah satu hadiah kecil di tengah perjuangan itu.

Jadi hari ini, kalau melihat ada yang upload kebahagiaan sederhana, aku tidak bertanya seperti dulu. Aku memilih untuk berhenti sejenak, tersenyum, dan berkata dalam hati: “Syukurlah kamu bahagia hari ini. Semoga besok juga begitu.”

Kadang itu sudah cukup untuk membuat dunia terasa sedikit lebih hangat. Sedikit lebih manusiawi. Dan lebih terhubung.



Previous Post
Jawaban yang Mengejutkan Tentang ‘Siapa Orang Terpenting’
Next Post
Bosan..., Pertanda Apa Ini?