Skip to content
Go back

Jawaban yang Mengejutkan Tentang ‘Siapa Orang Terpenting’

Published:  at  08:00 PM

something

Satu agenda rutin yang tiap bulannya digelar di kantor kami: Motivasi Bulanan. Dan hari ini, agenda itu kembali diselenggarakan bertepatan dengan peringatan Hari Antikorupsi Sedunia (Hakordia) yang jatuh pada tanggal 9 Desember. Tahun ini temanya cukup lantang: “Satukan Aksi, Basmi Korupsi!”.

Tapi santai… tulisan ini tidak akan membahas korupsi, kok.

Yang menarik dan ingin aku soroti melalui post kali ini adalah satu momen menarik dari sesi tersebut. Saat memasuki chapter 2Q (Two Questions), sang pemateri memulai dengan sebuah pertanyaan sederhana—tapi menggelitik, “Siapa orang paling penting (bagi kita)?”.

Beberapa peserta yang ditunjuk langsung menjawab spontan: “Ibu”, “Pasangan”, “Keluarga”, “Atasan”.

Lalu pemateri tersenyum, diikuti dengan sepungkas kalimat yang berisi kunci jawaban dari pertanyaanya:

Orang paling penting adalah orang yang ada di hadapan kita saat ini.

Hening sejenak. Sebagian peserta mengangguk setuju. Sebagian lain terlihat berpikir.

Dan aku? Aku justru secara reflek menoleh ke belakang, kepada seorang teman, dimana kami pernah mendiskusikan isi buku terjemahan berjudul “Menjadi Pribadi yang Memikat” karya Marc Reklau — penulis, pembicara, dan pelatih pengembangan diri asal Jerman. Dan salah satu bab awal buku tersebut menyinggung soal topik “orang penting” itu. Menurutku, orang paling penting bagi seseorang adalah dirinya sendiri—dulu.

Bukan karena egois. Tapi karena itu fondasi.

Dari pemahaman konsep tersebut, barulah aku mengerti kenapa dalam komunikasi kita perlu menempatkan lawan bicara seolah ia adalah orang yang penting bagi kita. Bukan untuk basa-basi, tapi karena pada dasarnya setiap orang hanya peduli pada dirinya sendiri. Sejak saat itu, cara pandangku tentang komunikasi—dan tentang diri sendiri—berubah.

Namun, bagaimana penjelasan lebih lengkapnya? Mari kita telaah pelan-pelan catatanku berikut.

Ranah Intrapersonal

Secara biologis dan psikologis, manusia bergerak dari pusat: diri sendiri.. Teori motivasi seperti Self-Determination Theory, Maslow’s Hierarchy, sampai psikologi humanistik Carl Rogers, semuanya mengarah pada peran kesadaran-diri / self-awareness atau orientasi diri sebagai fondasi bagi motivasi, perkembangan, dan aktualisasi

Kita tidak bisa mencintai, memahami, atau hadir bagi orang lain jika kita sendiri kosong secara emosional. Karenanya, pada level intrinsik:

Ini bukan egois. Ini fondasi kesehatan mental. Oleh sebab itu kita mungkin pernah mendengar ungkapan “seseorang yang telah selesai dengan dirinya”.

Jujur saja, default pertimbangan sebagian besar kita dalam mengambil keputusan bukan karena dunia berkata “ini penting,” tetapi secara naluri otak bertanya:

Apa dampaknya untuk aku?

Bahkan empati pun dimulai dari self reference, “Aku membayangkan kalau aku jadi dia, bukan aku jadi dia secara literal”.

Karena itu, benar bahwa bagi setiap individu, dirinya adalah orang paling penting. Dari sanalah keputusan, keinginan, pertahanan diri, dan motivasi muncul. Tanpa kesadaran dan penerimaan diri sebagai entitas penting, seseorang cenderung kehilangan identitas, mudah dikendalikan, atau mencari validasi eksternal secara berlebihan.

Ranah Interpersonal.

Dalam konteks komunikasi secara umum prinsip—orang penting—ini bergeser.

Yang paling penting adalah orang yang sedang berhadapan dengan kita.

Mengapa?

Karena manusia punya kebutuhan psikologis yang sangat kuat: ingin merasa penting, terlihat, dan didengar.

Dale Carnegie berkata:

To be interesting, you must be interested (Untuk menjadi menarik, jadilah orang yang tertarik).

Saat kita:

maka kita sedang memberikan sesuatu yang langka, yaitu kehadiran.. Dan kehadiran adalah bentuk penghargaan paling tinggi dalam komunikasi.

Jadi semakin jelas ya bahwa dua jawaban itu tidak bertentangan — mereka saling mengisi, bergantung pada konteksnya. Ketika tidak sedang berinteraksi, dirimu adalah pusat perhatian. Sebaliknya, ketika sedang berinteraksi, lawan bicaramu adalah pusat perhatian. Untuk hidup secara utuh, dua hal ini perlu berjalan berdampingan:

Dan sampailah kita pada satu simpulan, yang ketika dirangkum dalam satu formula menjadi sebagai berikut.

Self first for awareness, others first for connection.

Atau dalam bahasa yang lebih humanis:

Kau harus hadir penuh dalam dirimu sebelum bisa hadir penuh bagi orang lain.

Di situlah komunikasi menjadi empatik, dan hidup menjadi seimbang.

Referensi:

  1. “Berani Ngomong Langsung”, oleh Oh Su Hyang
  2. “How to Win Friends and Influence People”, oleh Dale Carnegie
  3. “The ‘What’ and ‘Why’ of Goal Pursuits: Human Needs and the Self-Determination of Behavior”, oleh Edward L. Deci and Richard M.Ryan
  4. “A Theory of Human Motivation”, oleh A. H. Maslow


Previous Post
Tentang Pulang yang Lama Ditunggu
Next Post
Apa Salahnya Merayakan Hal-Hal Kecil?