Skip to content
Go back

Tentang Pulang yang Lama Ditunggu

Published:  at  08:00 PM

something

Ada doa yang tidak hanya lahir dari hati, namun juga sebab jarak. Ini adalah doa kami.

Tujuh tahun bagi kami, di dalamnya ada rindu yang ditahan, pulang yang ditunda, dan kebersamaan yang hanya hadir lewat layar gawai, di sebagian besar malam.

Tujuh adalah jumlah yang sudah cukup banyak untuk dianggap berarti. Bukan cocoklogi, coba saja kamu cari tau dimana saja letak angka 7 itu dinisbahkan. Tujuh = tatanan utuh. Tujuh, Semoga ia menjadi penanda kesabaran yang paripurna bagi kami.

Penanda waktu terbaik untuk pulang. Pulang tanpa izin cuti. Pulang tanpa ransel besar kosong, yang isi saat pergi. Pulang untuk menjadi ayah dan suami sepenuhnya— mengantar sekolah, menemani belanja, mendengar mereka bercerita secara utuh dan duduk di ruang tamu tanpa tenggat keberangkatan.

Jika besok arah hidupku berubah, aku ingin perubahan itu dimulai dari doa.

رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ

Rabbi innī limā anzalta ilayya min khayrin faqīr.

Wahai Tuhanku, sungguh aku sangat membutuhkan kebaikan apa pun yang Engkau turunkan kepadaku. (QS. Al-Qashash: 24)

Ya Allah,

aku datang bukan membawa tuntutan, melainkan kelemahan seorang hamba yang kupelihara dengan sabar.

Engkau tahu jarak ini, bahkan sebelum aku mengeluhkannya. Engkau tahu betapa sering aku berpura-pura kuat, agar dua wanitaku tidak ikut goyah.

Jika kepulangan ini baik bagi imanku, baik bagi istri tercinta yang setia menanti, baik bagi anak-anakku yang tumbuh tanpa pelukan ayah setiap hari, maka dekatkanlah aku kepada mereka dengan cara-Mu yang paling lembut.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ، وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Rabbana hab lanā min azwājinā wa dzurriyyātinā qurrata a‘yun, waj‘alnā lil-muttaqīna imāmā.

Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami pasangan dan keturunan sebagai penyejuk mata, dan jadikan kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Furqan: 74)

Aku tak meminta jabatan, tak pula memohon kenyamanan berlebih. Aku hanya ingin hadir— utuh sebagai suami, lengkap sebagai ayah.

اللَّهُمَّ لَا سَهْلَ إِلَّا مَا جَعَلْتَهُ سَهْلًا، وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلًا

Allāhumma lā sahla illā mā ja‘altahu sahlā, wa anta taj‘alul-ḥazna idzā shi’ta sahlā.

Ya Allah, tidak ada yang mudah kecuali yang Engkau mudahkan. Dan Engkau mampu menjadikan kesulitan menjadi mudah jika Engkau kehendaki. (HR. Ibnu Hibban)

Pilihkan yang terbaik untuk kami, ya Allah. Dan jika itu bukan yang kuminta hari ini, maka jadikan hatiku cukup kuat untuk tetap menyebut nama-Mu dengan sebaik-baiknya iman.

اللَّهُمَّ اخْتَرْ لِي وَارْضِنِي بِهِ

Allāhumma ikhtar lī warḍinī bih.

Ya Allah, pilihkan yang terbaik untukku, dan jadikan aku ridha dengan pilihan-Mu. (HR. Ahmad)

Aamiin.



Previous Post
Ambisi, Mediokritas, dan Ketakutan yang Tak Pernah Diakui
Next Post
Jawaban yang Mengejutkan Tentang ‘Siapa Orang Terpenting’