Skip to content
Go back

Ambisi, Mediokritas, dan Ketakutan yang Tak Pernah Diakui

Published:  at  05:10 PM

something

Menjelang sore, beberapa saat lalu, terjadi obrolan mengalir di antara kami, aku dan seorang teman yang sebenarnya jarang sekali kami bertukar pandangan seintens kali ini. Tentang kerja, orang-orang, dan drama kecil yang entah kenapa selalu muncul di ruang yang katanya profesional.

Ada satu bahasan menarik yang memantikku untuk menulis dan mengulasnya singkat melalui post kali ini. Yaitu bahasan soal label ambis kerap disematkan untuk orang yang seringkali dianggap sebagai outlier karena nampak menonjol lebih maju dari medioker. Yang bahkan di beberapa konteks dianggap sebagai gatekeeper.

Aku tersenyum merespon dua keywords tersebut. Bukan karena lucu. Tapi karena familiar.

Lingkungan kerja kadang terasa seperti lintasan lari panjang. Semua start dari garis yang sama, memakai sepatu terbaik masing-masing, membawa visi yang terdengar seragam. Tapi tidak semua orang ingin—atau berani—berlari dengan kecepatan yang sama.

Ketika usaha dianggap sebagai gangguan

Ada fenomena yang sering kita anggap sepele: orang yang berusaha sedikit lebih serius justru sering dianggap masalah.

Di lintasan yang sama, ada orang yang mulai mempercepat langkah. Bukan untuk menjatuhkan yang lain. Bukan pula untuk pamer stamina. Ia hanya ingin melihat seberapa jauh kakinya bisa membawanya. Tapi bagi mereka yang memilih berjalan santai, suara langkah cepat itu terdengar mengganggu. Dan lahirlah label: ambis, gatekeeper, dan lain yang serupa dengannya.

Lucunya, cap-cap itu jarang datang dari sesama pelari yang juga ingin sampai lebih jauh. Lebih sering justru dari mereka yang sudah lama nyaman di ritme cukup.

Medioker tidak selalu malas, tapi sering karena takut tertinggal

Nyatanya, Medioker bukan selalu soal kemampuan. Sering kali ia adalah sikap. Sikap untuk bertahan di kecepatan aman. Sikap untuk menjaga napas agar tidak terengah. Sikap untuk memastikan semua orang tetap berada di jarak yang sama.

Masalah muncul ketika ada satu orang yang mulai berlari sedikit lebih cepat. Bukan karena ia paling hebat, tapi karena ia tidak ingin menyesal berhenti terlalu dini. Di titik ini, mediokritas mulai merasa tidak nyaman.

Dan karena tidak semua orang berani mengakui rasa tidak amannya, maka lahirlah label: Ambis, Gatekeeper, Sok beda., dsb. Label ini merupakan cara termudah untuk menyederhanakan kecemasan yang tak sempat diproses.

Budaya yang pelan-pelan menyerah

Lingkungan kerja yang sehat seharusnya memberi ruang untuk berbagai ritme. Ada yang masih belajar mengikat tali sepatu. Ada yang berlari stabil. Ada yang ingin menguji batas napasnya sendiri. Masalahnya, ketika mayoritas memilih berjalan, pelari yang berlari akan selalu terlihat mencolok.

Pelan-pelan, pesan tak tertulis pun terbentuk:

Jangan terlalu cepat. Nanti kamu kelihatan aneh.

Dan tanpa sadar, kita sedang membangun budaya yang menghargai keseragaman, bukan pertumbuhan. Bukan kualitas, tapi kenyamanan kolektif.

Di lintasan ini, bukan garis finis yang jadi tujuan utama—melainkan agar semua tetap sejajar, tak peduli apakah itu berarti melambat.

Ambisi tidak selalu egois

Ambisi sering disalahpahami sebagai keinginan menang sendiri. Padahal dalam banyak kasus, ambisi hanyalah bentuk lain dari kepedulian yang jujur. Peduli pada hasil. Peduli pada proses. Peduli pada potensi yang sayang jika dibiarkan setengah jalan.

Orang yang peduli memang sering terlihat merepotkan. Karena kepedulian selalu menuntut tanggung jawab. Dan tidak semua orang siap dengan napas panjang itu.

Berlari lebih cepat memang melelahkan. Tapi berhenti hanya karena takut terlihat berbeda, sering kali lebih menyakitkan.

Lalu di mana masalahnya?

Mungkin masalahnya bukan pada orang yang terlalu serius, yang selama ini dilabeli ambis, gatekeeper, dan semacamnya. Bukan pada mereka yang bekerja lebih awal. Bukan pada mereka yang bekerja lebih produktif. Dan tentu bukan pada rekan kita yang lebih berprestasi.

Mungkin masalahnya ada pada budaya yang terlalu lama berdamai dengan kata cukup. Dan ketika cukup merasa terancam oleh lebih, yang diserang bukan idenya—melainkan orangnya.

Di lintasan yang sama, bukan pelari yang disalahkan karena berlari. Tapi mereka yang berlari dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan yang memilih berjalan.

Jalan bertumbuh hampir selalu sepi

Kalau kamu sedang berusaha naik level, satu hal perlu kamu terima sejak awal: jalan bertumbuh hampir selalu sepi. Akan ada hari di mana niat baikmu disalahartikan. Akan ada fase di mana usahamu terasa mengganggu ritme orang lain. Bahkan dicurigai.

Tapi mungkin itu harga yang wajar untuk tidak menyerah pada versi diri yang medioker. Karena pada akhirnya, setiap orang bebas memilih ritmenya sendiri. Tapi..

pelari yang ingin sampai lebih jauh harus berdamai dengan satu hal: Ia akan sering berlari sendirian.

Dan itu tidak apa-apa.



Previous Post
Bloom: Pelajaran Hidup dari Secangkir Kopi Bansari
Next Post
Tentang Pulang yang Lama Ditunggu