
Hujan sore ini turun cukup deras di Gresik. Bukan hujan yang sekadar lewat, tapi yang seperti ingin menetap. Kehadirannya seperti meredam sejenak suara bising deru mesin kendaraan yang lalu-lalang tak lebih dari seratus meter dari tempatku berdiam saat ini. Udara terasa lebih bersih, dan waktu seolah berjalan lebih lambat dari biasanya.
Di waktu yang hampir bersamaan, terpaut jarak 802 kilometer, dari Tangerang Selatan, istriku mewartakan hujan yang sama, “Di rumah juga hujan lebat.”. Ah, hujan—entah kenapa—membuat sore ini terasa serempak. Seolah ada sesuatu yang menyatukan, meski kami tidak sedang berada di tempat yang sama.
Di kamar kos yang tek seberapa besar ini, aku menyiapkan ritual kecil yang selalu berulang. Kalau warga Ratu Elisabeth terbiasa dengan Afternoon Tea, maka ritualku adalah ngopi. Masih dengan pilihan manual brew, V60. Pilihan biji kopi sore ini jatuh pada:
Bansari,
- Origin: Sindoro, Jawa Tengah
- Elevation: 1200-1600 MDPL
- Variety: Kartika, S795, Orange Bourbon
- Process: Natural Carbonic Maceration
- Tasting Notes: Tropical Fruit, Berry, Caramel
Penamaan Bansari sendiri merujuk pada asal dimana biji kopi ini dipetik. Desa Bansari yang berada di lereng Gunung Sindoro, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Desa ini berada pada variasi ketinggian 1.000 hingga 1.500 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Aku membayangkan pohon kopi yang membuahkan berry kopi ini dulu tumbuh pelan, menunggu musim, hujan, dan matahari, jauh sebelum akhirnya biji sangrainya hadir di hadapanku.
Air kupanaskan hingga 90 derajat celcius. Tidak mendidih. Karena jika terlalu panas seringkali yang hadir kemudian hanya rasa pahit, rasa kopi yang terlalu familiar bagi sebagian besar kita sejak dulu.
Kopi kugiling medium. Rasio seduh 1:15, yang artinya dengan 15 gram bubuk kopi, diperlukan takaran air sebanyak 225 gram.
Aku mulai dengan blooming: proses pertemuan pertama kali bubuk kopi dengan air panas 40 ml, dengan jeda waktu 30 detik. Blooming memberi ruang kopi untuk “bernapas”, melepas karbon dioksida (CO₂) yang terperangkap dari biji kopi. Blooming membantu partikel dalam bubuk kopi untuk mekar, untuk mengembang. Dari proses ini, yang diharapkan adalah kopi menghadirkan cita rasa terbaiknya.
Lalu pour pertama adalah menuangkan air hingga total volumenya 175 ml, sampai pada menit ke 1.30. Disusul pour kedua sampai genap 225 ml. Total waktu seduh: 1 menit 30 detik sampai 2 menit.
Tidak ada yang terburu-buru. Setiap proses seduh itu membawa makna refleksi hidup. Hidup sering gagal bukan karena kita kurang berusaha, tapi karena kita ingin melewati fase blooming terlalu cepat.
Kita ingin hasil, tanpa memberi waktu pada proses. Ingin langsung menuang semuanya sekaligus. Padahal, tanpa bloom, rasa tidak akan keluar utuh. Tanpa jeda, karakter tidak sempat terbentuk.
Bloom dalam kopi adalah fase paling sunyi. Tidak dramatis. Tidak menghasilkan apa-apa yang bisa langsung diminum. Tapi justru di situlah fondasi rasa dibangun.
Kopi Bansari ini menawarkan tasting notes: tropical fruit, berry, dan caramel. Asam buah datang lebih dulu. Manisnya menyusul belakangan. Manis yang tidak terburu-buru. Manis yang lahir karena proses yang dijalani dengan benar, dilalui dengan sabar.
Seperti pelajaran hidup, bukan? Bahwa tidak semua pahit harus dihindari. Tidak semua manis datang di awal.
Ah, kopi ini terlalu nikmat rupanya. Aku menyesapnya pelan. Hangat. Tenang, berkat hujan yang turut meluruhkan ego para pengendara di jalan-jalan yang kini basah karenanya.