
Ada satu paradoks umum berlaku dalam dunia kerja, khususnya bagi mereka yang libur hanya pada tanggal merah atau cuti. Kita sering berangan-angan tentang libur panjang—tetap terima gaji penuh dan insentif—, tapi nyatanya diam-diam lengang berkepanjangan justru menghadirkan rasa kosong, bosan. Seolah-olah nilai diri kita tidak sepenuhnya tumbuh dari waktu luang, melainkan dari saat-saat ketika kita benar-benar merasa berguna.
Pagi itu, di ruang kerja kami, aku menangkap sebuah pelajaran dari obrolan kami yang begitu saja mengalir santai. Seorang rekan melontarkan angan-angannya—setengah serius: “Enak kali ya kalau bisa libur panjang… atau cuti panjang… —tapi tetap terima Take Home Pay utuh. Dan tentu, angan-angan libur ini di luar konteks libur pada penanggalan merah kalender, maupun cuti bersama yang telah ditetapkan sebagai kebijakan negara, ya.”
Pernyataan ini menyiratkan pemaknaan libur secara umum. Libur memang selalu terdengar manis. Ia seperti janji akan jeda, napas panjang, dan lepas dari tuntutan.
Setelah menyambut pernyatan pembuka tersebut dengan tawa ringan di antara kami, tak menunggu lama, aku pun segera menukasnya dengan argumen kontra, bukan untuk menolak, tapi untuk menimbang agar obrolannya lebih berkembang. Pun tentu dengan menyandarkan pada pengalaman pribadi yang kudapati.
“Eh, Libur atau cuti itu penting. Tapi tetap ada batasnya. Karena kalau terlampau panjang, aku sendiri justru seringkali merasakan ganjil, seperti: kok libur panjang malah merasa bosan ya, aku mestinya bisa merasa lebih berguna dari ini. Waktu luang tidak melakukan apa-apa, sementara orang-orang di luar sana bekerja dengan penuh keberdayaan.”
Beberapa hari pertama libur terasa menyenangkan. Hari-hari berikutnya mulai datar. Lalu, tanpa disadari, muncul rasa ganjil—bukan capek, bukan bosan semata, tapi semacam kehilangan peran. Seperti alat yang masih utuh, tapi disimpan terlalu lama di laci.
Mungkin karena jauh di dalam diri, manusia memang tidak hanya ingin nyaman. Ia ingin berfungsi. Ia ingin merasa kehadirannya ada artinya, tenaganya diberdayakan, pikirannya dibutuhkan. Bekerja—ketika dijalani dengan optimal—memberi itu semua. Bukan sekadar rutinitas, tapi ruang untuk merasa mampu. Ada tantangan yang dihadapi, masalah yang diselesaikan, kontribusi yang nyata. Di situ, harga diri pelan-pelan tumbuh. Bukan semata karena imbalan, tapi karena sadar: “aku sedang berguna.”
Sebaliknya, waktu luang yang terlalu panjang tanpa makna seringkali membuat kita berhadapan dengan pertanyaan sunyi: “Sebenarnya aku ini sedang melakukan apa?”. Dan ketika jawaban itu kosong, yang muncul kemudian adalah kegundahan.
Apa yang sudah kusebutkan di atas selaras dengan The Concept of Flow yang dipopulerkan oleh Mihály Csíkszentmihályi. Beliau adalah profesor di Claremont Graduate University, sekaligus psikolog terkemuka yang juga dikenal sebagai “Bapak Psikologi Positif”. Kamu bisa membacanya konsep flow beliau, di antaranya melalui link ini.
Konsep Flow ini coba aku ringkaskan untukmu, sebagai berikut.
Dalam psikologi, ada satu kondisi yang disebut flow, yaitu sebuah keadaan ketika seseorang sepenuhnya tenggelam dalam apa yang sedang ia kerjakan. Fokusnya utuh, pikirannya hadir di saat ini, dan aktivitas itu dijalani bukan karena imbalan di akhir, melainkan karena prosesnya sendiri terasa memuaskan.
Kondisi flow muncul ketika tantangan yang dihadapi seimbang dengan kemampuan yang dimiliki. Tidak terlalu mudah hingga membosankan, dan tidak terlalu sulit hingga membuat putus asa. Di titik inilah manusia merasa paling hidup: ada tujuan yang jelas, ada umpan balik yang terasa, dan ada perasaan mampu mengendalikan apa yang sedang dikerjakan. Waktu bahkan berlalu tanpa terasa.
Yang menarik, flow tidak bergantung pada jenis pekerjaannya. Ia bisa muncul saat bekerja, menulis, membaca, berolahraga, atau mengerjakan hal-hal yang menuntut keterlibatan penuh. Aktivitasnya boleh berbeda, tapi pengalamannya serupa, diri terasa menyatu dengan tindakan.
Karena itu, flow menjelaskan mengapa manusia sering merasa lebih berharga saat bekerja secara optimal. Bukan karena sibuknya, melainkan karena pada saat itulah potensi diri digunakan, kemampuan diuji, dan kontribusi nyata terjadi. Dalam flow, manusia tidak sekadar melakukan sesuatu. Ia sedang menjadi dirinya sendiri, secara utuh.
Konsep ini tentu bukan bentuk glorifikasi dari hustle culture. Libur tetap penting. Cuti tetap perlu. Tapi seperti bernapas, ia ada ritmenya: tarik, hembus. Ketika terlalu lama menahan napas, tubuh justru akan merespon dengan jantung berdebar, dan panik.
Dari obrolan kami di awal serta korelasinya dengan konsep flow, kita bisa menarik simpulan bahwa yang sebenarnya kita cari bukan libur panjang, melainkan kerja yang bermakna. Bukan lepas dari tanggung jawab, melainkan tanggung jawab yang membuat kita merasa hidup.
Karena pada akhirnya, manusia jarang merasa paling berharga saat tidak melakukan apa-apa. Ia justru merasa utuh ketika dirinya hadir, berdaya, dan memberi.
Dan mungkin itu sebabnya,
di tengah semua lelah dan keluhan tentang pekerjaan, kita tetap kembali ke sana. Bukan karena terpaksa, melainkan karena di situlah kita merasa: aku ada.