Skip to content
Go back

Tutur Kata, Bagian Emosi yang Bocor: Projective Judgment

Published:  at  10:00 PM

something Seporsi mie godog penggugah selera di penghujung hujan. Ia disertai dengan kopi hitam tanpa gula, yang saya tambahkan dalam daftar pesanan di warung Cak Pur beberapa saat lalu. Entah serasi atau tidak, namun keduanya cukup kuat untuk menjadi pemantik saya menuliskan, mengelaborasi obrolan dengan seorang teman sore tadi.

Sebetulnya bukan obrolan berat, sekedar tema keseharian, yang semua orang mudah menemuinya. Namun kali ini, saya menangkap makna di beberapa bagian, yang sayang sekali rasanya untuk berlalu begitu saja, tanpa menjadi pelajaran untuk diingat. Tentang projective judgment.

Kita tentu pernah menemui pribadi yang memiliki kebiasaan ‘murah’ (spontan) dalam memuji. Di kutub yang berlawanan, ada pribadi yang dengan mudahnya berkomentar nyinyir. Dalam konteks pola berulang, psikologi mengaitkannya dengan konsep yang disebut projective judgment.

Projective judgment adalah proses ketika seseorang memproyeksikan isi pikiran, perasaan, konflik batin, kebutuhan yang tidak disadari, atau bagian kepribadian lain ke dalam stimulus yang ambigu. Karena stimulusnya tidak jelas, orang akan mengisi kekosongan itu dengan apa yang sedang ada dalam alam pikirannya.

Dalam konteks relasi interpersonal, projective judgment merujuk pada fenomena ketika seseorang menafsirkan perilaku, ucapan, atau ekspresi orang lain bukan berdasarkan fakta yang sebenarnya, melainkan justru merefleksikan isi batin dirinya sendiri—pengalaman masa lalu, luka emosional, ketakutan, kebutuhan, atau harapan yang belum selesai.

Contoh manifestasi dari projective judgment dapat mudah kita temui dalam pola perilkau berikut, diantaranya.

• Orang yang spontan memberi pujian

Mereka yang ringan mengapresiasi sering kali menyimpan ruang aman di dalam dirinya. Ia mudah melihat sisi terang dalam diri orang lain karena cahaya itu memang tumbuh di dalam batinnya sendiri.

• Orang yang mudah nyinyir atau merendahkan orang lain

Sikap yang sinis biasanya berakar dari rasa tidak aman yang belum selesai (insecurity). Ia merendahkan orang lain sebagai cara instan untuk mengangkat dirinya—sebuah ilusi kecil untuk menutupi kekosongan besar di dalam jiwanya.

• Orang yang cepat menuduh

Mereka yang murah menaruh curiga sering membawa jejak pengalaman pengkhianatan. Ketakutan yang ia arahkan ke orang lain sebenarnya adalah ketakutan yang ia bawa terhadap dirinya sendiri: takut dikhianati lagi, takut percaya lagi.

• Para penggosip yang menjadikan gosip sebagai social currency

Bagi sebagian orang, gosip bukan soal informasi, tetapi soal kedekatan. Mereka menggunakan cerita orang lain sebagai jembatan cepat untuk merasa diterima. Bukan karena haus informasi, melainkan karena rindu koneksi. Gosip adalah jalan ninja pintas untuk merasa dekat.

Tentu beberapa contoh di atas merupakan sekelumit realitas sosial yang kita temui dalam keseharian. Jadi benar adanya sebuah ungkapan yang menyebutkan bahwa tutur kata yang terucap merupakan cerminan (kualitas) pribadi.

Dalam psikolinguistik, bahasa dianggap sebagai refleksi dari skema mental, bias kognitif yang terucap, atau proses emosi yang bocor.

Maka, ketika kita mendapatkan komentar miring, jangan berkecil hati. Abaikan saja, sangat mungkin komentar tersebut terlahir bukan dari kebenaran tentang diri kita, tapi justru dari luka, pengalaman, atau ketidakberdayaan diri si komentator.

Karena sejatinya hanya ujar yang baik, konstruktif, mengajak bertumbuh, yang layak kita cerna dan mengendap di pikiran serta hati. Sepakat ya!



Previous Post
Aku Menulis karena Aku Takut...
Next Post
Tilik Mbarep