
Menulis merupakan aktivitas fundamental yang telah kita jalani selama bertahun-tahun, setelah iqra (membaca). Mulai dari tugas menulis kalimat sederhana, membuat karangan singkat bertema pengalaman liburan semasa sekolah, sampai dengan membuat notula rapat di tempat kerja. Semuanya adalah proses menulis.
Meski demikian, proses menulis masih saja menjadi momok bagi sebagian besar kita hingga detik ini. Terkecuali untuk mereka dengan pengalaman panjang di dunia penulisan. Setidaknya ada tiga sebab penghambat proses kreatif menulis. Ketiganya kukutip dari hasil kurasi platform kepenulisan, @jagomenulis. Aku menyebutnya pada judul post ini sebagai “3 Monster yang Harus Kamu Kalahkan Sebelum Tulisan Pertamamu Lahir”.
Siapa saja mereka?
- Tulisan Aku jelek
- Orang tidak suka
- Takut dianggap sok nulis
A cappella ketiganya di benak kita menghadirkan ketakutan besar yang kerap menghentikan niat baik untuk mulai menulis.
Jika hal itu terjadi, mari kita hadapi ketiga monster itu dengan kekuatan bulan rasioanal. Counter–thought yang bisa menjadi ‘penangkal’ ketakutan yang ditimbulkannya coba kita kupas satu per satu, ya—bukan untuk menolak rasa takutnya, tapi untuk “menempatkannya di kursi penumpang”, sementara kita tetap pegang kemudinya.
- Tulisan Aku jelek vs. “Semua tulisan jelek sebelum berproses menjadi bagus.”
Tidak ada penulis yang lahir dengan tulisan yang langsung bagus, tanpa berproses. Tulisan hanya bisa menjadi bagus kalau ia diperkenankan untuk buruk dulu. Jika kamu tidak memberi izin pada tulisanmu untuk jelek, maka kamu juga tidak memberi kesempatan padanya untuk tumbuh secara kualitas.
Ketika kamu menulis, kamu sedang melatih otot yang belum pernah bekerja. Bukan gagal—hanya belum terbiasa, saja. Menulis bukan soal hebat sejak awal, tapi soal hadir, mengendapkan, lalu berevolusi.
- Orang tidak suka vs. “Tidak semua orang harus suka, cukup orang yang tepat.”
Tulisanmu bukan untuk semua orang—dan itu kabar baiknya. Ada orang yang tidak peduli. Ada yang tidak mengerti. Namun ingat, tetap ada orang yang butuh kalimatmu. Sebagian pembaca sedang mencari kata tepat menggambarkan perasaannya. Sebagian dari mereka mungkin sedang mencari jawaban atas keraguannya. Sebagian lainnya sedang mencari dukungan untuk menggenapkan keberaniannya melalui tulisanmu.
Kamu tidak menulis untuk mayoritas. Kamu menulis untuk mereka yang diam-diam berkata: “Akhirnya, ada yang menuliskan ini.”
- Takut dianggap sok nulis vs. “Lebih baik sok mencoba daripada sok diam.”
Nyatanya, ada orang yang hanya bisa berkomentar. Suaranya lebih lantang daripada tindakannya. Dan, hanya sedikit yang memilih berani berkarya, berani mencipta—walaupun belum yakin, walaupun takut salah.
Mereka yang menganggapmu ‘sok’ adalah orang yang tidak sedang berproses sepertimu. Biasanya, itu cermin dari rasa tidak percaya diri mereka sendiri. Menulis adalah keberanian: keberanian untuk salah, untuk bertumbuh, dan untuk terlihat.
Tiga penghambat yang dikiaskan sebagai monster pada post ini tidak dipungkiri membawa ketakutan untuk mulai menulis. Ketakutan yang ketika kita sadari secara rasional justru merupakan peta. Karena ketika kita menyadarinya (takut tulisan: jelek, tidak disuka), itu pertanda kita sedang bergerak ke arah yang benar, terus berbenah dan tumbuh. Yang perlu kamu lakukan hanya tetap menulis. Karena, Aku sama sepertimu.
Aku takut. Tapi aku tetap menulis.