Skip to content
Go back

Insecurity is Loud: Benarkah?

Published:  at  10:00 PM

something

Menarik sekali menyimak bincang podcast dengan bintang tamu Theo Derick pada Kanal Suara Berkelas, episode #68. Siapa itu Theo Derick? Bagi yang belum mengenalnya, ia adalah entrepreneur, investor, content creator, sekaligus public speaker muda asal Indonesia.

Dalam perbincangannya dengan Host Suara Berkelas, Bilal Faranov, ada satu ungkapan menarik yang Derick angkat, yaitu idiom “Insecurity is Loud”. Ia mencontohkan:

Apakah selalu demikian?

Faktanya, fenomena bahwa orang yang merasa tidak aman secara emosional atau tidak percaya diri seringkali menunjukkan perilaku kompensasi yang terlihat, seperti:

Secara psikologis, ini disebut overcompensation—usaha untuk menutupi rasa kurang dengan tampilan yang berlebihan. Bukan karena sombong, seperti yang kebanyakan kita mungkin sangka. Hal ini seringnya disebabkan oleh ketakutan kecil dalam diri, yang membisikkan “aku tidak cukup”. Dan untuk menenangkan ketakutan itu, mereka membuat suara lebih lantang.

Konsep serupa juga dijelaskan dalam teori Adlerian (Alfred Adler, Psikolog berkebangsaan Austria, pendiri awal aliran Psikologi Individual). Karyanya yang masyhur yaitu The inferiority complex. Dalam laman wiki yang kukunjungi, teori infeoritas yang dipopulerkan Alfred Adler mengungkapkan bahwa perasaan inferior-lah yang menuntun manusia berkembang.

Manusia ingin lepas dari perasaan inferioritas, menuju manusia superior dan sempurna.

Motivasi tersebutlah yang mendukung perilaku di mana seseorang menutupi rasa kurang dengan perilaku dominan atau lebay.

Lalu, bagaimana dengan mereka yang menunjukan pola perilaku berikut, contohnya:

Bukan karena tidak punya kemampuan, namun, mereka berperilaku demikian karena takut dikritik atau salah. Mereka tidak memamerkan apapun, namun hati mereka dipenuhi keraguan. Dan, ini adalah bagian dari insecurity. mereka tidak terdengar keras. Justru terasa sunyi—tetapi berat.

Dari sini kita belajar satu hal: Insecurity bisa berisik, bisa juga diam. Kedua polar tersebut menunjukkan kondisi manusia yang sama-sama sedang berjuang mengenal dirinya, manusiawi.

Bukankah ada “Percaya Diri”, lalu apa bedanya?

Percaya diri hadir dengan ketenangan. Ia tidak perlu memaksa diperhatikan. Ia tidak takut salah. Ia tidak risau ketika tidak mendapat validasi. Karena rasa percaya diri tidak bergantung pada tepuk tangan orang lain. Ia tumbuh dari mengenal diri, menerima diri, dan berdamai dengan kekurangan diri.

Sebab,

People who are truly confident don’t need to shout — their presence already speaks.

Referensi:

  1. Suara Berkelas, Episode #68
  2. “Alfred Adler”, Wikipedia.org
  3. “Confidence is quiet, insecurity is loud”, everydayux.net


Previous Post
Jumat dan Tempat Kembali Pulang
Next Post
3 Monster yang Harus Kamu Kalahkan Sebelum Tulisan Pertamamu Lahir.