
Gresik, Jumat pagi, 28 November 2025. Entah kenapa, pagi ini terasa lebih terang dari kemarin. Langit lazuardi seperti memberi ruang lebih luas bagi pikiranku yang masih mencoba bangun pelan-pelan. Di hadapanku, layar 17 inci menyala lembut. Sementara di antaranya telah tersaji kopi hitam-filter dalam tumbler, yang kubawa dari kost—aromanya sederhana, tapi cukup untuk menggugah ingatan tentang hari-hari panjang sepekan silam. Di sebelah kiriku, sedikit menjorok ke depan, sebuah vas kecil—lebih tepatnya, toples kaca bekas—dihuni Philodendron Erubescens yang menunduk bersahaja, turut memberi warna. Tak jauh darinya, ada kalender yang menyisakan satu lembar almanak terakhir tahun ini, Desember. Mengingatkanku bahwa waktu tidak pernah berjalan sambil menoleh ke belakang.
Dan, hari ini adalah Jumat yang selalu kunanti. Aku yakin begitupun denganmu. Ada kebahagiaan kecil yang sulit dijelaskan setiap kali Jumat datang, semacam perasaan pulang sebelum benar-benar sampai di rumah. Dalam keyakinanku, Jumat adalah penghulu hari, sayyidul ayyam. Hari yang layak kita rayakan meski hanya dengan sekedar langkah ringan dan secangkir kopi pembuka hari.
Bagiku, Jumat bukan sekadar akhir pekan yang mendekat. Ia adalah penanda waktu untuk kembali. Kembali pada kesayangan: rumah, keluarga, dan segala kehangatan yang tak memerlukan banyak kata. Maklumlah, aku bagian dari circle PJKA—Pulang Jumat, Kembali Ahad. Ritme sederhana yang justru membuat hidup terasa selalu punya titik temu; tempat di mana cerita-cerita yang kutahan sepanjang pekan akhirnya menemukan ruang untuk diletakkan.
Di sana, dengan seluruh sekat tersingkap, aku bercerita tanpa harus memilih kata paling aman. Karena merekalah tempat paling jujur yang kumiliki, orang-orang yang kutitipi seluruh versiku, baik yang rapi maupun yang berantakan, haha. Tapi tenang saja—aku tidak akan meng-ghibah-mu. Rasanya semakin dewasa seseorang, semakin ia belajar bahwa hidup bukan tentang membicarakan siapa yang salah, tapi tentang mencari tempat yang membuat kita merasa pulang tanpa ragu.
Pada akhirnya, mungkin hidup memang selalu bergerak dengan pola yang sama: pergi, bertahan, lalu pulang. Kita bekerja, mengupayakan banyak hal di luar sana, tapi naluri kita tahu bahwa ada tempat yang selalu menjadi rumah, di mana kita bisa menjadi siapa pun tanpa syarat.
Jumat memang berada di urutan ke enam dari sanak bersaudara hari, meski bukan yang pertama, ia selalu istimewa. Ia adalah hari di mana mula penciptaan manusia, Nabi Adam AS. Dengan segala kemuliaanya, Jumat seolah menjadi pengingat bahwa setiap perjalanan butuh jeda. Bahwa manusia tak diciptakan untuk terus menerus berlari tanpa sempat menengok dari mana ia berangkat. Ada kelegaan yang tidak bisa dibeli ketika kaki akhirnya berhenti, dan kita menyadari:
Oh, ternyata ini tujuan yang selama ini kucari, pulang.